Jumat, 29 Januari 2016

Anthropometri Gizi
Anthropometri adalah berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkatan umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain tinggi badan, berat badan, lingkar lengan, tebal lemak dan tinggi lutut. Secara umum antopometri digunakan untuk melihat ketidak seimbangan asupan/konsumsi protein dan energy. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
Terdapat beberapa cara yang digunakan untuk mengetahui status gizi seseorang, apakah seseorang tersebut memiliki gizi yang baik atau kurang bahkan buruk. Dengan begitu beberapa metode pengukuran perlu digunakan untuk memprekdisikan status gizi dari setiap orang. Cara pengukurang atau yang biasa disebut anthropometri memiliki beberapa cara sesuai dengan objek ukur.
PENGUKURAN TINGGI LUTUT               
Di Indonesia banyak dijumpai lansia atau jompo yang memiliki kekurangan pada bentuk tubuh. Hal tersebut dikarenakan menurunnya massa tulang dan gangguan tulang lainnya seperti osteoporosis. Keadaan tersebut mempengaruhi bentuk normal tubuh lansia sehingga menjadi bungkuk atau tidak dapat berdiri tegak. Dilain sisi anthropometri bagi lansia tetep diperlukan untuk mengetahui status gizi lansia tersebut. Usaha pengukuran status gizi tersebut dilakukan dengan penghitungan tinggi lutut untuk dapat memprediksi tinggi badan lansia. Bentuk tubuh kurang normal pada lansia berupa bentuk tubuh bungkuk menjadi permasalahan yang lumrah di daerah pedesaan di Indonesia. Maka cara yang digunakan untuk mengetahui status gizinya adalah dengan penhitungan tinggi lutut.
Berikut adalah batasan-batasan pada lansia:
à WHO mengelompokkan lansia menjadi 4 kelompok yang meliputi:
a)      Middle age (usia pertengahan) yaitu kelompok usia 45 – 59 tahun
b)      Elderly , antara 60 – 74 tahun
c)      Old, antara 75 – 90 tahun
d)     Very old, lebih dari 90 tahun
à Klasifikasi lansia berdasarkan kronologis usia, yaitu :
a)      Young old: 60-75 tahun
b)      Middle old: 75-84 tahun
c)      Old-old: >85 tahun (Wold: Basic Gerontology nursing)
à Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) lansia merupakan kelanjutan dari usia dewasa yang dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
a)      Fase iuventus, antara 25 -40 tahun
b)      Fase verilitas, antara40 -50 tahun
c)      Fase prasenium, antara 55 – 65 tahun
d)     Fase senium, lebih dari 65 tahun
pengukuran panjang lutut pada lansia dilakukan dengan cara :
Posisi tidur
1. Pasien terlentang pada tempat tidur (usahakan posisi tempat tidur/kasur rata/horizontal)
2. Tempatkan alat penyangga diantara lipatan paha dan betis kaki kiri membentuk siku (900)
3. Beri bantuan dengan bantal pada bagian pantat pasien jika alat penyangga terlalu tinggi.
4. Telapak kaki pasien membentuk siku (sudut 900)
5. Pasang alat pengukur tepat pada telapak kaki bagian tumit dan lutut
6. baca angka (panjang lutut) pada alat secara seksama
7. Catat angka hasil pengukuran
8. lakukan pengukuran sebanyak 3 kali

Titik Kritis :
Ø Bila subjek pendek maka pada posisi pantat diberi bantalan sehingga meyesuaikan dengan alat
Ø Alas tidur harus datar


Posisi Duduk
1. Orang yang diukur duduk pada kursi
2. Posisi duduk sempurna (badan tegak, tangan bebas kebawah dan wajah menghadap kedepan)
3. Lutut kaki yang diukur membentuk sudut siku (900)
4. Tempatkan alat pengukur tinggi lutut pada kaki sebelah kiri
5. Lakukan pengukuran
6. Baca angka (panjang lutut) pada alat secara seksama
7. Catat angka hasil pengukuran
8. lakukan pengukuran sebanyak 3 kali


Titik Kritis :
  • posisi subjek harus tegak
  • pada saat melakukan pengukuran, pijakan kaki disesuaikan dengan kaki subjek setelah diberi alat bantu.
  • Pada saat menekuk kaki subjek membentuk sudut 90 derajat
keterangan : Jika pasien tidak dapat berdiri , tinggi badan dapat diperoleh dengan cara mengukur tinggi lutut dengan kaliper. Dengan cara ini, pasien diterlentangkan dan titekuk sampai membentuk sudut 90 derajat. Batang kaliper diposisiskan sejajar dengan tulang tibia. Satu lengan caliper diletakkan dibawah tumit, sementara lengan yang satu lagi ditempelkan di bagian atas kondilus tulang paha anterior dan tepat di bagian proksimal tulang patella. Tekanan caliper harus dipertahanan hingga 10gr/mm2. Pengukuran dilakukan sedikitnya dua kali ,dan skala dibaca hinga kurang lebih 0,5cm . tinggi kemudia dihitung dengan rumus .Data tinggi badan lansia dapat menggunakan formula atau nomogram bagi orang yang berusia >59 tahun. Yang hasilnya menjadi pacuan hasil tinggi badan lansia tersebut. Hasil pengukuran dihitung ulang dengan rumus sebagai berikut :
Pria                 =  (2.02 x tinggi lutut (cm)) – (0.04 x umur (tahun)) + 64.19

Wanita            =  (1.83 x tinggi lutut (cm)) – (0.24 x umur (tahun)) + 84.88
Agar lebih mudah tanpa penghitungn rumus diatas dapat digunakan nomogram. Tinggi badan diperoleh dengan cara membuat garis lururs dari “titik usia” ke angka hasil pengukuran tinggi lutut sehingga memotong garis vertical “ tinggi badan lelaki dan wanita “. Titik perpotongan garis itu merupakan tinggi badan perkiraan. Selain emnggunakan tulang tibia sebagai patokan, fibula pun bisa juga dijadikan acuan. Tinggi tulang fibula (TF) diukur dari kaput fibula hingga malleolus lateralis ( dalam cm ). Perkiraan TB berdasarkan seks , usia, dan tinggi fibula bisa dihitung berdasarkan rumus berikut :
TB ( PRIA ) = 153,1-(0,26 × USIA) – (1×1) + (1,05 × TF)
TB (WANITA) = 153,1 – (0,26 × USIA) – (1×2) + ( 1,05 × TF )


Referensi
Dr. Ari Istiany, M.Si dan Dr. Rusilanti,M.Si gizi terapan, PT.R emaja Rosdakarya ,Bandung
I Dewa Nyoman Supariasa dkk, penilaian status gizi, penerbit buku kedokteran EGC , Jakarta
Dr. Arisman, MB , Buku Ajar Ilmu Gizi Gizi Dalam Daur Kehidupan, penerbit buku kedokteran ECG jakarta
Model Prediksi Tinggi Badan Lansia Etnis Jawa Berdasarlian Tinggi Lutut, Panjang Depa, dan TinggiDuduk Jurnal oleh : Fatmahr llardinsyah, Boedhihartono, Tri Budi W. Rahardjo, Departemen gizi kesehatan masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia
Hubungan Antara Indek Massa Tubuh (IMT) Dengan Derajat Osteoartritis Lutut menurut KELLGREN dan LAWRENCE, artikel hasil karya tulis ilmiah, Disusun oleh : Sara Listyani Koenjtoro G2A 006 171, Program Pendidikan Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Tahun 2010
Tinggi lutut sebagai prediktor dari tinggi badan pada lanjut usia, Oleh: Oktavianus Ch. Salim, Rina K. Kusumaratna, Novia I. Sudharma dan Adi Hidayata Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Universa Medicina Januari-Maret 2006 vol.25 no.1

Persamaan (EQUATION) Tinggi Badan Manusia Usia Lanjut (MANULA) Berdasarkan Usia dan Etis pada 6 panti  terpilih dI DKI Jakarta dan Tangerang Tahun 2005 oleh: Fatmah, Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia, MAKARA Kesehatan, vol.10 no.1 Juni 2006 7-16C

Tidak ada komentar:

Posting Komentar