Anthropometri
Gizi
Anthropometri adalah
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai
tingkatan umur dan tingkat gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain tinggi
badan, berat badan, lingkar lengan, tebal lemak dan tinggi lutut. Secara umum
antopometri digunakan untuk melihat ketidak seimbangan asupan/konsumsi protein
dan energy. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan
proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
Terdapat beberapa
cara yang digunakan untuk mengetahui status gizi seseorang, apakah seseorang
tersebut memiliki gizi yang baik atau kurang bahkan buruk. Dengan begitu
beberapa metode pengukuran perlu digunakan untuk memprekdisikan status gizi
dari setiap orang. Cara pengukurang atau yang biasa disebut anthropometri
memiliki beberapa cara sesuai dengan objek ukur.
PENGUKURAN TINGGI LUTUT
Di Indonesia banyak
dijumpai lansia atau jompo yang memiliki kekurangan pada bentuk tubuh. Hal
tersebut dikarenakan menurunnya massa tulang dan gangguan tulang lainnya
seperti osteoporosis. Keadaan tersebut mempengaruhi bentuk normal tubuh lansia
sehingga menjadi bungkuk atau tidak dapat berdiri tegak. Dilain sisi
anthropometri bagi lansia tetep diperlukan untuk mengetahui status gizi lansia
tersebut. Usaha pengukuran status gizi tersebut dilakukan dengan penghitungan
tinggi lutut untuk dapat memprediksi tinggi badan lansia. Bentuk tubuh kurang
normal pada lansia berupa bentuk tubuh bungkuk menjadi permasalahan yang lumrah
di daerah pedesaan di Indonesia. Maka cara yang digunakan untuk mengetahui
status gizinya adalah dengan penhitungan tinggi lutut.
Berikut adalah
batasan-batasan pada lansia:
à WHO mengelompokkan lansia menjadi 4 kelompok yang
meliputi:
a)
Middle age (usia pertengahan) yaitu kelompok
usia 45 – 59 tahun
b)
Elderly , antara 60 – 74 tahun
c)
Old, antara 75 – 90 tahun
d)
Very old, lebih dari 90 tahun
à Klasifikasi lansia berdasarkan kronologis usia,
yaitu :
a)
Young old: 60-75 tahun
b)
Middle old: 75-84 tahun
c)
Old-old: >85 tahun (Wold: Basic Gerontology
nursing)
à Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) lansia
merupakan kelanjutan dari usia dewasa yang dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
a)
Fase iuventus, antara 25 -40 tahun
b)
Fase verilitas, antara40 -50 tahun
c)
Fase prasenium, antara 55 – 65 tahun
d)
Fase senium, lebih dari 65 tahun
pengukuran panjang lutut pada lansia
dilakukan dengan cara :
Posisi tidur
1. Pasien terlentang pada tempat tidur (usahakan posisi tempat tidur/kasur rata/horizontal)
2. Tempatkan alat penyangga diantara lipatan paha dan betis kaki kiri membentuk siku (900)
3. Beri bantuan dengan bantal pada bagian pantat pasien jika alat penyangga terlalu tinggi.
4. Telapak kaki pasien membentuk siku (sudut 900)
5. Pasang alat pengukur tepat pada telapak kaki bagian tumit dan lutut
6. baca angka (panjang lutut) pada alat secara seksama
7. Catat angka hasil pengukuran
8. lakukan pengukuran sebanyak 3 kali
Titik Kritis :
Ø Bila subjek pendek maka pada posisi pantat diberi bantalan sehingga meyesuaikan dengan alat
Ø Alas tidur harus datar
Posisi tidur
1. Pasien terlentang pada tempat tidur (usahakan posisi tempat tidur/kasur rata/horizontal)
2. Tempatkan alat penyangga diantara lipatan paha dan betis kaki kiri membentuk siku (900)
3. Beri bantuan dengan bantal pada bagian pantat pasien jika alat penyangga terlalu tinggi.
4. Telapak kaki pasien membentuk siku (sudut 900)
5. Pasang alat pengukur tepat pada telapak kaki bagian tumit dan lutut
6. baca angka (panjang lutut) pada alat secara seksama
7. Catat angka hasil pengukuran
8. lakukan pengukuran sebanyak 3 kali
Titik Kritis :
Ø Bila subjek pendek maka pada posisi pantat diberi bantalan sehingga meyesuaikan dengan alat
Ø Alas tidur harus datar
Posisi Duduk
1. Orang yang diukur duduk pada kursi
2. Posisi duduk sempurna (badan tegak, tangan bebas kebawah dan wajah menghadap kedepan)
3. Lutut kaki yang diukur membentuk sudut siku (900)
4. Tempatkan alat pengukur tinggi lutut pada kaki sebelah kiri
5. Lakukan pengukuran
6. Baca angka (panjang lutut) pada alat secara seksama
7. Catat angka hasil pengukuran
8. lakukan pengukuran sebanyak 3 kali
Titik Kritis :
- posisi
subjek harus tegak
- pada
saat melakukan pengukuran, pijakan kaki disesuaikan dengan kaki subjek
setelah diberi alat bantu.
- Pada
saat menekuk kaki subjek membentuk sudut 90 derajat
keterangan : Jika pasien tidak
dapat berdiri , tinggi badan dapat diperoleh dengan cara mengukur tinggi lutut
dengan kaliper. Dengan cara ini, pasien diterlentangkan dan titekuk sampai
membentuk sudut 90 derajat. Batang kaliper diposisiskan sejajar dengan tulang
tibia. Satu lengan caliper diletakkan dibawah tumit, sementara lengan yang satu
lagi ditempelkan di bagian atas kondilus tulang paha anterior dan tepat di
bagian proksimal tulang patella. Tekanan caliper harus dipertahanan hingga
10gr/mm2. Pengukuran dilakukan sedikitnya dua kali ,dan skala dibaca
hinga kurang lebih 0,5cm . tinggi kemudia dihitung dengan rumus .Data tinggi badan lansia dapat menggunakan formula atau nomogram
bagi orang yang berusia >59 tahun. Yang hasilnya menjadi pacuan hasil tinggi
badan lansia tersebut. Hasil pengukuran dihitung ulang dengan rumus sebagai
berikut :
|
Pria = (2.02 x tinggi lutut (cm)) – (0.04 x umur
(tahun)) + 64.19
Wanita = (1.83 x tinggi lutut
(cm)) – (0.24 x umur (tahun)) + 84.88
|
Agar lebih mudah tanpa penghitungn rumus diatas dapat
digunakan nomogram. Tinggi badan diperoleh dengan cara membuat garis lururs
dari “titik usia” ke angka hasil pengukuran tinggi lutut sehingga memotong
garis vertical “ tinggi badan lelaki dan wanita “. Titik perpotongan garis itu
merupakan tinggi badan perkiraan. Selain emnggunakan tulang tibia sebagai
patokan, fibula pun bisa juga dijadikan acuan. Tinggi tulang fibula (TF) diukur
dari kaput fibula hingga malleolus lateralis ( dalam cm ). Perkiraan TB
berdasarkan seks , usia, dan tinggi fibula bisa dihitung berdasarkan rumus
berikut :
TB
( PRIA ) = 153,1-(0,26 × USIA) – (1×1) + (1,05 × TF)
TB
(WANITA) = 153,1 – (0,26 × USIA) – (1×2) + ( 1,05 × TF )
Referensi
Dr. Ari Istiany, M.Si dan Dr.
Rusilanti,M.Si gizi terapan, PT.R emaja Rosdakarya ,Bandung
I Dewa Nyoman Supariasa dkk,
penilaian status gizi, penerbit buku kedokteran EGC , Jakarta
Dr. Arisman, MB , Buku Ajar Ilmu
Gizi Gizi Dalam Daur Kehidupan, penerbit buku kedokteran ECG jakarta
Model Prediksi Tinggi Badan
Lansia Etnis Jawa Berdasarlian Tinggi Lutut, Panjang Depa, dan TinggiDuduk Jurnal oleh : Fatmahr
llardinsyah, Boedhihartono, Tri Budi W. Rahardjo, Departemen gizi
kesehatan masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia
Hubungan Antara Indek Massa Tubuh (IMT) Dengan Derajat Osteoartritis Lutut menurut KELLGREN dan LAWRENCE, artikel hasil karya tulis ilmiah, Disusun oleh : Sara Listyani
Koenjtoro G2A 006 171, Program
Pendidikan Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Tahun
2010
Tinggi lutut sebagai prediktor dari tinggi badan pada lanjut usia, Oleh: Oktavianus
Ch. Salim, Rina K. Kusumaratna, Novia I. Sudharma dan Adi Hidayata Bagian Ilmu
Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Universa Medicina
Januari-Maret 2006 vol.25 no.1
Persamaan (EQUATION) Tinggi Badan Manusia Usia Lanjut (MANULA) Berdasarkan Usia dan
Etis pada 6 panti terpilih dI DKI Jakarta dan Tangerang Tahun 2005 oleh: Fatmah, Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia, MAKARA
Kesehatan, vol.10 no.1 Juni 2006 7-16C
Tidak ada komentar:
Posting Komentar